Dividend trap = mengejar yield tinggi mendekati cum-date, lalu rugi karena harga turun lebih dalam daripada dividen (apalagi setelah pajak 10%). Kami menguji pola ini pada 1.489 event dividen (239 emiten, harga harian 2020–2026). Angka di bawah adalah abnormal return (dikurangi rata-rata pasar sampel), bukan tip saham.
Temuan inti dari backtest
- Run-up 20 hari sebelum cum: median abnormal +2,0% (hit rate ~62%) — pasar sering mengantisipasi.
- Drop cum→ex: median −2,9%; rasio drop terhadap DPS median ~0,8 — harga biasanya menyesuaikan hampir sebesar dividen.
- Recovery 10 hari setelah ex: median abnormal masih −1,3% (hit rate hanya ~38%) — “beli di ex, tunggu pulih” sering gagal dalam 2 minggu.
- Capture 10 hari (termasuk dividen net pajak 10%): median mendekati nol (−0,4%) — strategi mengejar dividen jangka sangat pendek jarang menang setelah biaya implisit harga.
Yield makin tinggi, perangkap makin dalam?
Bucket yield ≥10% (80 event) menunjukkan run-up 20 hari yang kuat (median abnormal ~+10%), tapi recovery 10 hari setelah ex jauh lebih buruk (median ~−4,5%, hit rate hanya 25%). Bucket 6–10% juga punya drop ex yang dalam (median ~−6,7%). Ringkasnya: yield jumbo sering sudah “dihargai” sebelum cum, lalu koreksi pasca-ex lebih keras.
Sebaliknya, yield <3% punya drop ex yang lebih dangkal (median ~−1,2%) — tapi run-up-nya juga lemah. Trap tidak otomatis = yield tinggi; trap = membeli hanya karena yield tanpa buffer untuk penyesuaian harga dan pajak.
Kerangka praktis di Dividen IDX
- Cek tipe event: special/jumbo sekali jalan sering menggelembungkan yield TTM.
- Baca skor konsistensi waktu & tren jumlah di halaman emiten — bukan hanya yield berjalan.
- Pakai /runup untuk melihat emiten di jendela antisipasi ~100 hari sebelum perkiraan cum.
- Pakai /temuan untuk ringkasan statistik lengkap; jangan mengandalkan satu angka yield.
Metodologi dan batasan (sumber harga, abnormal return, pajak) dijelaskan di halaman Temuan. Data sekunder bisa keliru — bukan saran investasi.
Baca temuan backtest lengkap